Kerupuk Pasir Ditengah Ragamnya Jajanan Lainnya

Standard

Saat pagi matahari muncul dari ufuk timur menyinari bumi yang diisikan berbagai manusia yang memulai aktivitasnya beragam tak terkecuali Iwan seorang penjual kerupuk pasir (kerupuk sangrai) berusia 38 tahun berasal dari subang yang sudah sejak tahun 1998 sudah menekuni pekerjaan sebagai seorang penjual kerupuk pasir (kerupuk sangrai) dengan mangkal ke sekolah-sekolah. Iwan memulai aktivitasnya dengan menyiapkan barang jualannya tak tertinggal kerupuk pasir yang sudah jadi juga ia siapkan karena dengan kerupuk inilah satu-satunya pemasukan bagi dirinya hidup dijakarta meskipun tanpa keluarganya yang berada di subang jawa barat.

Kerupuk pasir (kerupuk sangrai) merupakan salah satu jajanan tradisional dimana keunikan dari kerupuk ini adalah kerupuk yang dimasak dengan pasir pantai dengan cara disangrai, kerupuk dapat mekar dan matang karena direndam dalam minyak pasir pasir pantai dan disangrai dengan api yang panas dan tidak menggunakan minyak sama sekali. Setiap harinya iwan berkeliling menjual kerupuk pasirnya dari satu sekolah dasar kesekolah dasar lainnya dan juga berkeliling kampong yang ada dikawasan sekitar jagakarsa dengan memikul karung-karung kerupuk dipundaknya tanpa rasa lelah yang dirasakannya.

Iwan mendapat pemasokan krupuk pasirnya dari kota Subang yang setiap dua minggu sekali dikirim dari agen sekitar 4-5 karung besar kerupuk yang ada dalam karung plastic, iwan juga harus memilah-milah kerupuknya sebelum dijual. Dimana kerupuk yang baik adalah kerupuk yang mekarnya sempurna dan tipis pastinya dan dari bahan dasar sagunya yang berupa sagu singkong yang diberikan pewarna makanan juga harus yang bagus walaupun masih menggunakan alat tradisional dalam membuat dan ketika memasak api juga harus panas dan cuaca yang panas juga membantu untuk menjaga tingkat kerenyahan, untuk kerupuk yang matangnya merata dan bagus dibutuhkan sekitar 3-5 menit untuk menyangrai, iwan juga harus memastikan kerenyahan dari kerupuk ini jangan sampai ketika dijual kerupuk akan alot karena kerupuk yang alot baginya suddah tidak layak untuk dimakan apalagi dijual.

Sampai saat ini kerupuk pasir iwan masih cukup banyak peminatnya terutama anak-anak sekolah dasar, hanya dengan bermodalkan kerupuk yang dimasukan kedalam plastic lalu diberi saus sambal yang dilengkapi dengan potongan cabe, dikasih penyedap rasa dan gula supaya rasa pedas dan gurih sebagai bumbu pelengkapnya cukup memiliki rasa yang khas dibandingkan dengan jajanan lainnya.

Setiap harinya iwan mulai berjualan dari pukul 08.00 pagi hingga pukul 17.00 sore, dari pagi hingga siang hari iwan berjualan di sekolah dasar Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda baru ketika siang hingga sore hari dia berkeliling di sekitaran kawasan ragunan, cilandak dan kebagusan. Setiap harinya iwan mendapat penghasilan kotor berkisar antara Rp 130.000 sampai Rp 150.000 dan itu juga belum dipotong kebutuhan lain dalam berdagang seharinya jika pendapatan bersih iwan  sekitar Rp 75.000-80.000 dan jika sedang sepi pendapatan iwan tidak sampai Rp 75.000.

Apalagi jika cuaca hujan dari pagi iwan tidak akan keluar untuk berdagang karena kerupuknya tidak akan laku dijual. Iwan pun juga harus kembali membeli kerupuk dari agen sebesar Rp 300.000 sebagai modal untuk berjualannya kedepannya laku atau tidak laku iwan tidak pernah menargetkan untuk segera kembali modal yang terpenting berusaha dahulu untuk rezeki sudah ada yang menentukan.

Untuk itu iwan sangat membutuhkan panas dari matahari untuk menjaga tingkat kerenyahan kerupuknya stabil dan dapat dijual kembali penikmat dari kerupuk pasir (kerupuk sangrai) iwan tidak hanya anak-anak melainkan dari berbagai kalangan baik yang muda  dan juga yang tua. Keberuntungan iwan sebagai penjual kerupuk ditengah banyaknya penjual kerupuk lainnya terletak pada keinginannya untuk berkeliling jika sebagian penjual lain memilih untuk menaruh atau menitipkan keerupuknya ke warung-warung tetapi tidak bagi iwan, karena berkeliling dirasakannya sebagai salah satu cara berjualan yang baik.

Dijakarta iwan tinggal dirumah kontrakan dan dia mengontrak untuk satu kamar dengan membayar Rp 300.000 perbulannya dia tinggal dijakarta bersama tiga rekannya sesama penjual kerupuk laiinya, Masing-masing harus mengumpulkan sekitar Rp 100.000 perbulan untuk membayar kontrakan. Dijakarta iwan juga harus sebisa mungkin menabung sebanyak-banyaknya untuk keluarganya dikampung halaman yang pastinya sudah menunggu hasil pencarian nafkah dari iwan yang berjuang dijakarta bersama dua orang temannya

Meskipun iwan didalam berjualannya harus berhadapan dengan pedagan-pedagang lainnya seperti siomay, sosis goreng, batagor dan yang lain tetapi iwan tidak menyerah melainkan menjadi penyemangat dirinya untuk mencari penghasilannya karena menurutnya rezaki dan pendapatan sudah ada yang mengatur. Setiap hari iwan bertemu dengan penjual jajanan anak yang berbeda dengan sifat dan karakter yang berbeda namun itu membuat iwan lebih mengerti serta mempelajari kepribadian masing-masing sehingga dapat membantu dirinya dalam beradaptasi terhadap lingkungan baru.

 Iwan juga harus menghadapi ramainya pembeli kerupuk pasir (kerupuk sangrainya) dengan kepribadian yang berbeda terlebih lagi jika anak-anak sekolah yang membeli dimana anak-anak sekolah biasanya amat sangat cerewet dan tidak mau mengerti ingin segera dilayani olehnya. Untuk menghadapi itu semua biasanya iwan mengantisipasinya dengan cara mengajak bercanda anak-anak atau pembelinya supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, dengan caranya tersebut anak-anak yang cerewet dan ingin segera dilayani perlahan ikut terbawa suasana dan ikut bercanda dan tertawa bersama. Teman-teman iwan pun tak jarang mengajak bercanda baren karena iwan merupakan sosok orang yang memang suka bercanda sesame teman tak perduli apakah orang yang baru dikenalnya atau sudah lama mengenalnya, biasanya iwan bisa langsung berbaur dengan mudah terutama jika sesama rekan berjualannya suka bercanda dan mengobrol bareng terutama jika sudah membicarakan tentang sepak bola.

 Iwan juga dikenal sebagai salah satu penjual atau pedagang yang menjaga kebersihan disbanding dengan pedagang lainnya, jika hampir seluruh pedagang lain langsung pulang ketika jam anak-anak pulang dari sekolah berbeda dengan iwan dia lebih memilih untuk menunggu keadaan sepi dari anak-anak pulang sekolah kemudian dia langsung mencari sebuah sapu lidi dan membersihkan seluruh kawasan sekitar area berjualnnya disekolahan, hal itu dilakukan semata-mata hanya untuk memberikan tanda terima kasih sekaligus menghormati dan menghargai dimana dirinya sudah diberikan izin oleh pihak sekolah dan warga setempat untuk berjualan disekolah Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda itulah yang membuat iwan masih diperbolehkan berjualan hingga saat ini sampai warga dan guru-guru sekitar sekolahan mengenalnya dengan sosok yang baik dan rajin. «Gatot Trilaksono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s