Hentakan Suara Merdeka!! Bung Tomo

Standard

           Cara berpidato seorang Sutomo (Bung Tomo) dalam membangkitkan semangat rakyat Surabaya untuk melawan masa penjajahan Belanda merupakan bentuk kepedulian dirinya terhadap Bangsa Indonesia yang dianggap sebagai suatu tonggak gerakan kemerdekaan khususnya di Surabaya.

           Hentakan suara dari seorang Bung Tomo sudah membuat rakyat Surabaya melek akan kemerdekaan Indonesia yang selama ini sulit didapatkan dari tangan belanda, namun tidak ada yang menyangka bahwa Sutomo atau Bung Tomo yang lahir di Surabaya 3 Oktober 1920 yang sebenarnya adalah seorang jurnalis di tahun 1937 yang sudah geram dengan ulah Belanda menjajah Indonesia terlebih lagi sudah berani menginjakan kaki di Surabaya melalui pasukan NICA. Bung Tomo yang pada saat itu sudah menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru mulai meluncurkan serangan ke pihak Belanda terlebih lagi gerakan Bung Tomo didukung oleh pihak Jepang yang saat itu berperan sebagai pihak yang memprofokasi antara Belanda dan Indonesia agar terjadi  perang.

           Saat itu Bung Tomo mulai mengumpulkan rakyat di lapangan Mojokerto diawali dengan mengumpulkan pakaian untuk korban perang hingga pada akhirnya dia berani menyuarakan suaranya dihadapan segenap rakyat Surabaya  yang ada dihadapannya untuk berontak melawan penjajahan Belanda yang saat itu diwakili oleh pasukan NICA, dengan penggalan pidato “selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih,maka selama itu tidak akan kita mau menyerah pada siapapun juga. Allahuakbar allahuakbar!! MERDEKA!!!”.

           Suara pidato tersebutlah yang melecutkan semangat segenap rakyat Surabaya hingga terjadilah perang di Surabaya pada 10 November 1945 yang merupakan tonggak pemberontakan rakyat terhadap kedatangan Belanda di Surabaya kendati saat itu Indonesia harus kalah dari pasukan NICA Belanda namun tetap pada 10 November 1945 diperingati sebagai hari pahlawan yang dianggap sebagai bentuk penghormatan atas semangat juang dan nyawa yang dikorbankan demi kemerdekaan Indonesia yang dilecutkan oleh seorang Bung Tomo.

           Semangat juang yang ditunjukan oleh seorang Bung Tomo kepada rakyat Surabaya merupakan suatu lecutan yang sangat keras pada saat itu dimana seseorang dapat memimpin, mempengaruhi sekelompok atau bahkan ribuan rakyat hanya dengan melalui sebuah pidato yang menghentakan jiwa dan semangat juang rakyat dalam sebuah tujuan yaitu mempertahankan kedaulatan Negara Indonesia. Semangat yang harusnya masih tertanam dalam semangat kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini namun sulit ditemukan bahkan didapatkan dalam jiwa kepemimpinan seorang pemimpin saat ini, di Indonesia membutuhkan seorang pemimpin yang berani dan tegas atas sikap dan tujuan dari kelompok,organisasi bahkan ancaman dari Negara lain untuk tetap menjaga kehormatan dan kedaulatan Negara Indonesia. «GatotTrilaksono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s